is publicating my self……….

KELAINAN DIDAPAT SALURAN PENCERNAAN PADA ANAK DAN DEWASA


MODUL 2

KELAINAN DIDAPAT SALURAN PENCERNAAN
PADA ANAK DAN DEWASA

SKENARIO 2 : PAK BURUT “BERKANTONG” BESAR
Pak Burut 65 tahun datang ke Puskesmas Padang Pasir Kota Padang dengan pembengkakan pada kantong kemaluan kanan sejak 3 tahun yang lalu. Ketika ditanya oleh dokter puskesmas dia menerangkan bahwa pembengkakan ini dulunya bias hilang ketika dia tidur. Sejak 1 tahun terakhir pembengkakan tersebut menetap. Pak Burut berdomisili di Lunang Pesisir Selatan dan mempunyai tetangga yang sakit seperti ini tetapi sudah dioperasi dengan penyakit Hydrocele, dan tetangga yang satu lagi juga menderita sakit seperti ini, tetapi menurut dokter puskesmas di Silaut sakitnya adalah Elephantiasis. Dokter Puskesmas Padang Pasir mengatakan kepada Pak Burut untuk dikirim ke Rumah Sakit M.Djamil dan nanti akan menjalani tindakan operasi Herniorraphy dan Hernioplasty.
Apa yang terjadi pada Pak Burut dan tetangganya?

I. KLASIFIKASI TERMINOLOGI

Terminologi yang diperoleh adalah
1. Hydrocele, yaitu kumpulan cairan yang berbatas tegas, khususnya kumpulan cairan di dalam tunika vaginalis testis atau sepanjang funikulus spermatikus.
2. Herniorraphy, yaitu perbaikan hernia secara bedah
3. Hernioplasty, yaitu tindakan memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
4. Elephantiasis, yaitu obstruksi kronik pada saluran limfatik dengan hipertrofi kulit dan jaringan subkutan, biasanya mengenai daerah yang tergantung seperti tungkai, lengan, atau genitalia eksterna, merupakan penyakit filarial yang umumnya ditemukan di daerah tropis akibat infeksi saluran limfatik oleh nematode Wuchericia Brancofti, Brugia Malayi atau B.timoti.

II. IDENTIFIKASI MASALAH

Rumusan masalah berdasarkan scenario ini adalah
1. Apakah hubungan usia, jenis kelamin dan tempat tinggal Pak Burut dengan riwayat penyakit sekarang?
2. Mengapa pembengkakan bias hilang saat pak Burut tidur dan mengapa pembengkakan bersifat menetap dalam kurun waktu satu tahun terakhir?
3. Apa diagnosis penyakit Pak Burut berdasarkan manifestasi klinis penyakitnya dan bagaimana cara menegakkan diagnosanya?
4. Mengapa pembengkakan hanya terjadi di kantong kemaluan sebelah kanan dan mengapa tidak terjadi di kantong kemaluan sebelah kiri?
5. Apa hubungan penyakit Pak Burut dengan penyakit tetangga dan apa diagnosis banding lain penyakit Pak Burut?
6. Apa pertimbangan rujukan penyakit Pak Burut untuk dioperasi dan apa terapi pendahuluan yang selayaknya diberikan oleh dokter puskesmas?
7. Bagaimana metode Herniorraphy dan Hernioplasty dan apa penatalaksanaan lain dari penyakit Pak Burut?
8. Apa prognosis penyakit Pak Burut?

III. ANALISA MASALAH

Analisa permasalahan adalah
1. Hubungan usia, jenis kelamin dan tempat tinggal Pak Burut dengan riwayat penyakit sekarang
Usia Pak Burut yang mencapai 65 tahun tergolong lanjut usia, sehingga memiliki banyak kemungkinan untuk multipatologis. Selain itu kemungkinan usia lanjut menyebabkan degenerasi jaringan ikat yang merupakan salah satu patofisiologi penyakit hernia. Tempat tinggal pak Burut di Pesisir Selatan memperkuat diagnosis banding penyakit Pak Burut, yaitu elephantiasis.

2. Alasan pembengkakan bisa hilang saat pak Burut tidur dan pembengkakan bersifat menetap dalam kurun waktu satu tahun terakhir?
Pada 3 tahun lalu penyakit pak Burut didiagnosis Hernia reponibel, dimana saat tidur tekanan intraabdomen berkurang sehingga tidak ada tekanan pada isi hernia, selain itu karena saat tidur terdapat tekanan kea rah abdomen, sehingga isi hernia dipaksa masuk kembali ke dalam cavum abdomen. Pada kurun waktu 1 tahun terakhir, kemungkinan hernia sudah melekat ke peritoneum atau cincin hernia semakin menyempit sehingga menghalangi usaha hernia memasuki cavum abdomen kembali.

3. Diagnosis penyakit Pak Burut berdasarkan manifestasi klinis penyakitnya dan cara menegakkan diagnosanya
Berdasarkan manifestasi klinis, pak Burut didiagnosis menderita penyakit hernia reponibel dan semenjak 1 tahun terakhir berubah menjadi Hernia irreponibel.
Cara menegakkan diagnosisnya adalah
1) Transluminasi.
2) Konsistensi dan batas
3) Adanya peradangan atau tidak.
4) Adanya bising usus atau tidak.
5) Foto rontgen
6) Perabaan

4. Alasan pembengkakan hanya terjadi di kantong kemaluan sebelah kanan dan tidak terjadi di kantong kemaluan sebelah kiri
Kemungkinan prosesus vaginalis sebelah kanan terbuka sedangkan sebelah kiri tidak dan tekanan intra abdomen yang lebih tinggi ke kantong kemaluan sebelah kanan daripada sebelah kiri.

5. Hubungan penyakit Pak Burut dengan penyakit tetangga dan diagnosis banding lain penyakit Pak Burut
Penyakit pak Burut memiliki beberapa kesamaan dengan penyakit tetangga, sehingga penyakit tetangga bisa dijadikan sebagai diagnosis banding dari penyakit pak Burut.

6. Pertimbangan rujukan penyakit Pak Burut untuk dioperasi dan terapi pendahuluan yang selayaknya diberikan oleh dokter puskesmas
Hernia pak Burut memang bukan tergolong dalam kasus kegawatdaruratan, tetapi bisa mengganggu aktivitas dan penampilan Pak burut dan bisa memiliki prognosis yang buruk jika tetap dibiarkan. Berdasarkan alasan itu, dokter puskesmas merujuk pak Burut ke fasilitas kesehatan yang memiliki fasilitas untuk menangani penyakit pak Burut, yaitu RS.M.Djamil.
Terapi pendahuluan yang bisa diberikan dokter puskesmas adalah pemberian antibiotic dan analgesic kepada pak Burut.

7. Metode Herniorraphy dan Hernioplasty dan penatalaksanaan lain dari penyakit Pak Burut
Herniorraphy merupakan penatalaksanaan penyakit hernia dengan teknik operatif. Herniorraphy dilakukan dengan 2 metode yaitu metode herniotomi dan hernioplasty.
Metode Hernioplasty adalah memperkecil annulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.

8. Prognosis penyakit Pak Burut
Prognosis penyakit Pak Burut adalah

IV. SISTEMATIKA MASALAH
Sistematika berdasarkan permasalahan scenario adalah

V. TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran adalah
Mahasiswa mampu menjelaskan kelainan-kelainan didapat saluran pencernaan pada anak dan dewasa (epidemiologi, etiologi, manifestasi klinik, patologi, patofisiologi, diagnosis, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, prognosis, rujukan, diagnosis banding)

VI. MENGUMPULKAN INFORMASI TAMBAHAN

1. Anatomi Dinding Abdomen
Abdomen adalah yaitu bagian batang badan yang terdapat di kaudalis dada dan di bawah dibatasi oleh lig.inguinale & panggul. Rongga yang terdapat di dalam abdomen disebut cavum abdominis.

Alat tractus digestivus yang terdapat dalam cavum abdomen adalah:
1. Gaster.
2. Duodenum.
3. Yeyenum.
4. Ileum.
5. Caecum & appendix vermiformis.
6. Colon Asc.
7. Colon Trans.
8. Colon Desc
9. Colon Signoid

Dinding perut dibentuk oleh Di bentuk oleh :
1. Depan, oleh Otot-otot lurus perut
2. Samping, oleh Otot-otot serong perut.
3. Belakang, oleh m.quadratus lumborum, Otot-otot punggung , Columna vertebralis

Otot-otot lurus perut adalah
1. m.rectus abdominis
2. M.pyranidalis

Otot-otot serong perut adalah
1. m.obligus abdoninis externus (lapisan dinding luar perut)
2. m.obligus abdominis internus. (lapisan tengah dinding perut )
3. m.transversus abdominis (lapisan yang terdalam)

otot-otot dinding belakang perut adalah
1. m.quadratus lumborum.
2. m.psoas mayor.
3. m.psoas minor.

Bidang khayal pada dinding abdomen adalah
1. Bidang Vertikal
a. Bidang Median
b. Bidang Vertikal Lateral (lanjutan dari thorak)

2. Bidang Horizontal
a. Bidang Transpylori.
bidang melalui pertengahan antara pusat dengan junctura xyphosternalis melalui lumbalis I.
b. Bidang Subcostalis
Bidang yang melalui arcus costarum yang terendah kira-kira setinggi bagian bawah cor.vert. LIII.
c. Bidang Umbilicalis
Bidang yang melalui pusat kira 2½ – 3½ Cm. diatas bidang transtubercularis.
d. Bidang Transtubercularis.
Bidang yang melalui crista iliaca tertinggi ki & ka. melalui bagian bawah corpus vert.lumbal V.
e. Bidang Spinosi.

Bidang yang melalui spina iliaca ant. sup. ki-ka.
Regio abdomen adalah
1. Regio ABD Cranialis, yaitu
1) Regia hypochondrica dextra.
2) Regio epigastrica.
3) Regio hypochondrica sinistra.

2. Regio Mesogastrica
1) Regio abd lateralis dextra.
2) Regio umbilicalis
3) Regio abd lateralis sinistra

3. Regio Hypogastrica
1) Regio inguinalis dextra.
2) Regio pubica.
3) Regio inguinalis sinistra.

2. GER (Gastroesophageal Reflux) dan GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)
Refluks gastroesofagus (GER) didefinisikan sebagai kembalinya isi lambung ke esofagus atau lebih proksimal. Isi lambung tersebut bisa berupa asam lambung, udara maupun makanan. RGE ini bisa murni akibat gangguan secara fungsional tanpa adanya kelainan lain. Bisa juga akibat adanya gangguan struktural yang terdapat pada esofagus maupun gaster yang mempengaruhi penutupan sfingter esofagus bawah (SEB), seperti kelainan anatomi kongenital, tumor, komplikasi operasi, tertelan zat korosif dan lain-lain.
GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) didefenisikan sebagai refluks yang meningkat, baik dari frekuensi dan lamanya, jika terjadi regurgitasi bahan-bahan refluks dan kehilangan kalori, atau bahan-bahan refluks merusak mukosa esofagus dan menyebabkan esofagitis.

Tabel Perbedaan gambaran klinis GER dan GERD pada bayi dan anak
GER (Gastroesophageal Reflux) GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)
Regurgitasi dengan BB normal
Gejala dan tanda esofagitis tidak ada

Gejala gangguan pernafasan tidak ada

Gejala gangguan neurologis tidak ada Regurgitasi dengan penurunan BB
Gelisah persisten (persistent irritability) bayi terlihat kesakitan
Sakit dada bawah, sakit menelan, pirosis pada anak
Hematemesis, anemia defisiensi besi.
Apnu, sianosis pada bayi, mengalami Pnemonia aspirasi dan berulang, Batuk kronis, Stridor
Posisi leher menjadi miring

Penyebab terjadinya GER adalah sebagai berikut

1. Tekanan lambung lebih tinggi dari pada tekanan esofagus.
1) Obstruksi
a. Stenosis pilorus
b. Tumor abdomen
c. Makan terlalu banyak

2) Peningkatan peristalsis, karena gastroenteritis
3) Peningkatan tekanan abdomen
a. Obesitas.
b. Memakai pakaian terlalu ketat
c. Pemanjangan waktu pengosongan lambung

2. Tekanan lambung sama dengan tekanan esophagus
1) Gangguan faal, disebabkan saluran esophagus bawah longgar
a. 2.2.2.1.1.1. Chalasia
b. 2.2.2.1.1.2. Adult-ringed esophagus
c. 2.2.2.1.1.3. Obat–obat asma
d. 2.2.2.1.1.4. Merokok
e. 2.2.2.1.1.5. Pemakaian pipa nasogastrik

2) Hiatal hernia
Sebagian isi lambung memasuki rongga dada dan menyebabkan posisi lambung tidak normal.

3. Faktor–faktor lain yang mempengaruhi
1) Penyakit gastrointestinal lain ( penyakit Crohn )
2) Eradikasi Helicobacter pylori
3) Faktor genetik
4) Reaksi respon imun berlebihan
5) Obat–obat yang mempengaruhi asam lambung; NSAIDs, calcium
6) channel blockers, dan lain–lain.

Gejala Klinis
Dengan mengamati gejala klinis yang timbul maka pemeriksaan penunjang untuk diagnose dapat sangat selektif dilakukan pada penderita yang diduga kuat menderita RGE. Beberapa gejala klinis yang timbul pada GER ini adalah sebagai berikut:

1. Manifestasi klinis akibat refluks asam lambung.
1) Sendawa (pirosis)
2) Mual.
3) Muntah
4) Sakit uluhati
5) Sakit menelan
6) Hematemesis melena
7) Striktura
8) Iritabel (bayi)
9) Gangguan pada saluran pernafasan
10) Erosi pada gigi

2. Manifestasi klinis akibat refluks gas (udara)
1) Eructation
2) Cekukan
3) Rasa penuh setelah makan
4) Mudah merasa kenyang
5) Perut sering gembung

3. Manifestasi klinis akibat refluks makanan dan minuman
1) Muntah.
2) Menolak diberi makanan (pada bayi dan anak)
3) Aspirasi ke saluran pernafasan (apnu, SIDS)
4) Anemia
5) Penurunan berat badan
6) Gagal tumbuh
7) Retardasi psikomotor
8) Sandifer syndrome (dimana terjadi hiper-ekstensi leher dan torticolis pada bayi)

Pemeriksaan Penunjang

1. Barium per Oral
Prinsip pemeriksaan adalah melihat refluks bubur barium. Pemeriksaan ini sangat berguna untuk melihat adanya kelainan struktural dan kelainan anatomis dari esofagus, adanya inflamasi dan esofagitis dengan erosi yang hebat (inflamasi berat). Ketika pemeriksaan ini dilakukan pasien diberi minum bubur barium, baru foto rongen dilakukan. Pada pemeriksaan ini dapat terlihat adanya suatu ulkus, hiatal hernia, erosi maupun kelainan lain.
Tetapi pemeriksaan ini tidak dapat mendeteksi ulkus ataupun erosi yang kecil. Pada pemeriksaan ini bisa terjadi positif semu jika pasien menangis selama pemeriksaan, peningkatan tekanan intraabdomen dan meletakkan kepala lebih rendah dari tubuh. Bisa juga terjadi negatif semu jika bubur barium yang diminum terlampau sedikit. Kelemahan lain, refluks tidak dapat dilihat jika terjadi transient low oesophageal sphincter relaxation (TLSOR).

2. Manometri Esophagus
Manometri merupakan suatu teknik untuk mengukur tekanan otot. Caranya adalah dengan memasukkan sejenis kateter yang berisi sejenis transduser tekanan untuk mengukur tekanan. Kateter ini dimasukkan melalui hidung setelah pasien menelan air sebanyak 5 ml. Ukuran kateter ini kurang lebih sama dengan ukuran pipa naso-gastrik. Kateter ini dimasukkan sampai transduser tekanan berada di lambung. Pengukuran dilakukan pada saat pasien meneguk air sebanyak 10–15 kali. Tekanan otot spingter pada waktu istirahat juga bisa diukur dengan cara menarik kateter melalui spingter sewaktu pasien disuruh melakukan gerakan menelan. Dengan pemeriksaan ini dapat diketahui baik tidaknya fungsi esofagus ataupun SEB dengan berbagai tingkat berat ringannya kelainan.

3. Pemantauan pH Esophagus
Pemantauan pH esofagus dilakukan selama 24 jam. Uji ini merupakan cara yang paling akurat untuk menentukan waktu kejadian asidifikasi esofagus serta frekuensi dan lamanya refluks. Prinsip pemeriksaan adalah untuk mendeteksi perubahan pH di bagian distal esofagus akibat refluks dari lambung. Uji memakai suatu elektroda mikro melalui hidung dimasukkan ke bagian bawah esofagus. Elektroda tersebut dihubungkan dengan monitor komputer yang mampu mencatat segala perubahan pH dan kemudian secara otomatis tercatat. Biasanya yang dicatat episode refluks yang terjadi jika terdeteksi pH 18 bulan, dengan hiatus hernia yang besar.

5) Anak dengan gangguan neurologis yang tidak respon dengan obat- obatan

3. Hernia
1. Pengertian
Berasal dari bahasa Latin, herniae, yaitu menonjolnya isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus.

2. Bagian-bagian Hernia
Bagian-bagian hernia adalah

1) Kantong hernia: pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis

2) Isi hernia: berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia. Pada hernia abdominalis berupa usus
3) Locus Minoris Resistence (LMR)
4) Cincin hernia: Merupakan bagian locus minoris resistence yang dilalui kantong hernia
5) Leher hernia: Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia.

3. Klasifikasi Hernia
1) Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas :
a. hernia bawaan (kongenital)
b. hernia yang didapat (akuisita)

2) Berdasarkan letaknya, hernia dibagi menjadi
a. Hernia interna
b. Hernia eksterna

3) Berdasarkan sifatnya, hernia dibagi menjadi
a. Hernia reponible, yaitu terjadi jika isi hernia dapat keluar masuk, isi hernia keluar biasanya pada saat berdiri atau mengedan (aktifitas) dan masuk pada saat tiduran (istirahat) , hernia jenis ini biasanya tanpa keluhan.
b. Hernia irreponible, yaitu terjadi jika isi hernia tidak dapat keluar masuk karena sudah ada perlekatan antara isi hernia dengan kantongnya, hernia jenis ini biasanya tanpa keluhan nyeri maupun gangguan pasase usus.
c. Hernia inkaserata, yaitu terjadi jika isi hernia tidak dapat keluar masuk kerena adanya jepitan isi hernia oleh cincin hernia sehingga timbul gejala gangguan pasase usus seperti mual, muntah, kembung, tidak dapat BAB, tidak dapat flatus.
d. Hernia strangulata, yaitu terjadi jika isi hernia megalami jepitan oleh cincin hernia sehingga timbul gejala gangguan pasase (obstruksi) dan gangguan vaskularisasi. Gangguan pasase dapat berupa mual, muntah, kembung, tidak dapat BAB, tidak dapat flatus dan gangguan vaskularisasi dapat berupa nyeri yang menyerupai cholik yang lama kelamaan bisa menetap dan dapat diikuti dengan nekrosis daerah yang mengalami jepitan bahkan dapat terjadi perforasi. Bila hernia strangulata hanya menjepit sebagian dinding usus biasanya disebut hernia Richter.

4. Factor Predisposisi
Hal-hal yang mempermudah terjadinya suatu hernia antara lain :
1) Riwayat batuk lama : TBC paru
2) Pekerja pengangkat beban berat
3) Trauma
4) Konstipasi lama
5) Usia tua
6) Hipertrofi prostat
7) Iatrogenik
8) Obesitas
9) Kebiasaan mengejan saat BAB

5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan hernia dapat dilakukan dalam beberapa tindakan, antara lain:
1) Konservatif
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.
2) Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.
a. Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.

b. Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai metode hernioplasti seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m. oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m. transversus abdominis, m.oblikus internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek.

6. Pencegahan
Kelainan kongenital yang menyebabkan hernia memang tidak dapat dicegah, namun langkah-langkah berikut ini dapat mengurangi tekanan pada otot-otot dan jaringan abdomen:
1) Menjaga berat badan ideal. Jika anda merasa kelebihan berat badan, konsultasikan dengan dokter mengenai program latihan dan diet yang sesuai.
2) Konsumsi makanan berserat tinggi. Buah-buahan segar, sayur-sayuran dan gandum baik untuk kesehatan. Makanan-makanan tersebut kaya akan serat yang dapat mencegah konstipasi.
3) Mengangkat benda berat dengan hati-hati atau menghindari dari mengangkat benda berat. Jika harus mengangkat benda berat, biasakan untuk selalu menekuk lutut dan jangan membungkuk dengan bertumpu pada pinggang.
4) Berhenti merokok. Selain meningkatkan resiko terhadap penyakit-penyakit serius seperti kanker dan penyakit jantung, merokok seringkali menyebabkan batuk kronik yang dapat menyebabkan hernia inguinalis.

4. Invaginasi
1) Defenisi
Intususepsi atau invaginasi adalah suatu keadaan masuknya segmen usus ke segmen bagian distalnya yang umumnya akan berakhir dengan obstruksi usus strangulasi (Mansjoer. R. 2000)

2) Epidemiologi
Intususepsi lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan (Mansjoer. R. 2000). Angka kejadian pada anak laki-laki 3 kali lebih besar bila dibandingkan anak perempuan (kidshealth. org, 2001). Seiring dengan pertambahan umur, perbedaan kelamin menjadi bermakna. Pada anak usia lebih dari 4 tahun, rasio insidensi anak laki-laki dengan anak perempuan adalah 8 : 1. (emedicine, 2001)

3) Etiologi
Pada bayi lebih dari 3 tahun, bisa disebabkan faktor mekanik, seperti :
a. Meckel diverticulum
b. Polip pada untestinum
c. Lymposarcoma intestinum
d. Trauma tumpul pada abdominal dengan hematom
e. Hemangioma emedicine.com, 2003).
Selain itu beberapa penelitian menunjukkan peranan rotavirus pada penyebab invaginasi.

4) Gejala Klinis
Gejala yang tampak adalah nyeri perut yang hebat, mendadak dan hilang timbul dalam waktu beberapa detik hingga menit dengan interval waktu 5-15 menit. Diluar serangan, anak tampak sehat. (www.pediatrik.com, 2003). Bayi dengan intususepsi akan mengalami nyeri abdomen yang sangat mendadak sehingga mereka menangis dengan sangat kesakitan dan keras. Bayi tersebut akan menarik lututnya ke dada. kidshealth.org, 2001)
Anak sering muntah dan dalam feses sering ditemukan darah dan lendir. Secara bertahap anak akan pucat dan lemas, bisa menjadi dehidrasi, merasa demam, dan perut mengembung. (www.gosh, 2002).Selain itu, ada gejala-gejala seperi anak menjadi cepat marah, nafas dangkal, mendengkur, konstipasi kidshealth.org, 2001).

5) Diagnosis
Anamnesa dengan keluarga dapat diketahui gejala-gejala yang timbul dari riwayat pasien sebelum timbulnya gejala, misalnya sebelum sakit, anak ada riwayat dipijat, diberi makanan padat padahal umur anak dibawah 4 bulan. kidshealth.org, 2001).Pemeriksaan fisik, pada palipasi diperoleh abdomen yang mengencang, massa seperti sosis kidshealth.org, 2001).
Pemeriksaan penunjang dilakukan X-ray abdomen untuk melihat obstruksi kidshealth.org.2001).Pemeriksaan ultrasound bisa melihat kondisi secara umum dengan menggunakan gelombang untuk melihat gambaran usus di layar monitor (www.gosh, 2002).

6) Penatalaksanaan
Penatalaksanaan invaginasi adalah
a. Terapi cairan intravena
b. Pemasangan nasogastrik tube
c. Barium enema untuk reduksi invaginasi
d. Operasi, jika tindakan dengan barium enema tidak berhasil

7) Komplikasi
Jika invaginasi terlambat atau tidak diterapi, bisa timbul beberapa komplikasi berat, seperti kematian jaringan usus, perforasi usus, infeksi dan kematian kidshealth.org, 2001).

8) Prognosis
Invaginasi dengan terapi sedini mungkin memiliki prognosis yang baik. Terdapat resiko untuk kambuh lagi familidoctor.org, 2003)

9) Differensial diagnosis
Differensial diagnosis pada invaginasi adalah
a. Trauma Abdomen
b. Appendisitis Akut
c. Hernia
d. Gastroenteritis
e. Torsi testis
f. Perlengketan jaringan
g. Volvulus
h. Meckel diverticulum
i. Perdarahan G 1
j. Proses-proses yang menumbuhkan nyeri abdomen emedicine.com, 2003).

5. Hemorrhoid
1. Defenisi
Hemorrhoid adalah dilatasi varikosus vena dari pleksus hemoroidalis inf/sup.

2. Etiologi
Etiologi hemorrhoid adalah
a. Obstruksi vena
b. Prolaps bantalan anus
c. Keturunan
d. Diet dan geografis
e. Kebiasaan defekasi
f. Tonus sfingter anus

3. Gejala klinis
Gejala klinis hemorrhoid adalah
a. Perdarahan melalui anus
b. Prolaps atau benjolan anus
c. Nyeri dan rasa tidak aman
d. Secret, pruritus dan hygiene kurang

4. Komplikasi
Komplikasi yang muncul adalah
a. Trombosis dan infeksi bantalan vaskuler interna
b. Edema
c. Trombosis vaskuler ekterna
d. Anemia
e. Dermatitis perianal

5. Diagnosis
Diagnose hemorrhoid ditegakkan dengan diagnose
a. Anamnesa
b. Pemeriksaan fisik
c. Inspeksi perianal
d. Palpasi
e. Anuskopi
f. Sigmoidoskopi

6. Klasifikasi
Klasifikasi hemorrhoid adalah
a. Stadium I
Pada stadium I terjadi perdarahan, tetapi tidak terjadi prolaps
b. Stadium II
Pada stadium II, terdapat bantalan prolaps seperti dibawah L.Dentata saat mengedan dan hilang spontan, selain itu terdapat secret dan pruritus
c. Stadium III
Pada stadium III, terdapat bantalan anus yang keluar saat mengedan dan tetap diluar sampai direposisi manual, selain itu biasanya terdapat kotoran dalam pakaian dalam.
d. Stadium IV
Pada stadium IV, terdapat nyeri, prolaps tidak dapat direposisi secara manual, dan terdapat bantalan interna yang ditutupi mukosa.

7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan hemorrhoid ini adalah
a. Pencegahan
Usaha yang dapat dilakukan adalah
1) Memberikan nasehat
2) menghindari konstipasi kronik
3) mengkonsumsi makanan berserat tinggi
4) menghindari makanan yang pedas
5) menggunakan toilet jongkok

b. Medikamentosa
Obat yang digunakan adalah Obat simtomatik nyeri ,gatal ,salep antiseptik,analgetik, vasokonstriktor.

c. Tindakan invasiv
Tindakan invasive yang dapat dilakukan adalah
1) Skleroterapi
2) Rubber Band Ligation
3) Cryotheraphy atau cryosurgery
4) Coagulation infra red
5) Bipolar diathermy
6) Tindakan operasi

6. Perdarahan Saluran Pencernaan
1) Defenisi
Perdarahan bisa terjadi dimana saja di sepanjang saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus. Bisa berupa ditemukannya darah dalam tinja atau muntah darah,tetapi gejala bisa juga tersembunyi dan hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan tertentu.

2) Etiologi
Penyebab perdarahan pada saluran pencernaan :
a. Kerangkongan, di antaranya disebabkan oleh:
a) Robekan jaringan
b) Kanker

b. Lambung, di antaranya disebabkan oleh:
a) Luka kanker atau non-kanker
b) Iritasi (gastritis) karena aspirin atau Helicobacter pylori

c. Usus halus, di antaranya disebabkan oleh:
a) Luka usus dua belas jari non-kanker
b) Tumor ganas atau jinak

d. Usus besar, di antaranya disebabkan oleh:
a) Kanker
b) Polip non-kanker
Penyakit peradangan usus (penyakit Crohn atau kolitis ulserativa)
c) Penyakit divertikulum
d) Pembuluh darah abnormal di dinding usus (angiodisplasia)

e. Rektum, di antaranya disebabkan oleh:
a) Kanker
b) Polip non-kanker
c) Anus, di antaranya disebabkan oleh:
• Hemoroid
• Robekan di anus (fisura anus)

3) Manifestasi Klinik
Gejalanya bisa berupa:
1. muntah darah (hematemesis)
2. mengeluarkan tinja yang kehitaman (melena)
3. mengeluarkan darah dari rektum (hematoskezia)
Tinja yang kehitaman biasanya merupakan akibat dari perdarahan di saluran pencernaan bagian atas, misalnya lambung atau usus dua belas jari. Warna hitam terjadi karena darah tercemar oleh asam lambung dan oleh pencernaan kuman selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh. Sekitar 200 gram darah dapat menghasilkan tinja yang berwarna kehitaman.
Penderita dengan perdarahan jangka panjang, bisa menunjukkan gejala-gejala anemia, seperti mudah lelah, terlihat pucat, nyeri dada dan pusing. Jika terdapat gejala-gejala tersebut, dokter bisa mengetahui adanya penurunan abnormal tekanan darah, pada saat penderita berdiri setelah sebelumnya berbaring.
Gejala yang menunjukan adanya kehilangan darah yang serius adalah denyut nadi yang cepat, tekanan darah rendah dan berkurangnya pembentukan air kemih. Tangan dan kaki penderita juga akan teraba dingin dan basah. Berkurangnya aliran darah ke otak karena kehilangan darah, bisa menyebabkan bingung, disorientasi, rasa mengantuk dan bahkan syok.
Gejala kehilangan darah yang serius bisa berbeda-beda, tergantung pada apakah penderita memiliki penyakit tertentu lainnya. Penderita dengan penyakit arteri koroner bisa tiba-tiba mengalami angina (nyeri dada) atau gejala-gejala dari suatu serangan jantung. Pada penderita perdarahan saluran pencernaan yang serius, gejala dari penyakit lainnya, seperti gagal jantung, tekanan darah tinggi, penyakit paru-paru dan gagal ginjal, bisa bertmbah buruk. Pada penderita penyakit hati, perdarahan ke dalam usus bisa menyebabkan pembentukan racun yang akan menimbulkan gejala seperti perubahan kepribadian, perubahan kesiagaan dan perubahan kemampuan mental (ensefalopati hepatik).

4) Diagnosa
Pemeriksaan ditujukan untuk menemukan sumber perdarahan. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah
a. Endoskopi
b. Biopsy
c. Rontgen dengan menggunakan barium enema
d. angiografi

5) Penatalaksanaan
Pada lebih dari 80% penderita, tubuh akan berusaha menghentikan perdarahan. Penderita yang terus menerus mengalami perdarahan atau yang memiliki gejala kehilangan darah yang jelas, seringkali harus dirawat di rumah sakit dan biasanya dirawat di unit perawatan intensif.
Bila darah hilang dalam jumlah besar, mungkin dibutuhkan transfusi. Untuk menghindari kelebihan cairan dalam pembuluh darah, biasanya lebih sering diberikan transfusi sel darah merah (PRC/Packed Red Cell) daripada transfusi darah utuh (whole blood). Setelah volume darah kembali normal, penderita dipantau secara ketat untuk mencari tanda-tanda perdarahan yang berlanjut, seperti peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah atau kehilangan darah melalui mulut atau anus.
Perdarahan dari vena varikosa pada kerongkongan bagian bawah dapat diobati dengan beberapa cara. Diantaranya dengan memasukkan balon kateter melalui mulut ke dalam kerongkongan dan mengembangkan balon tersebut untuk menekan daerah yang berdarah. Cara lain ialah dengan menyuntikan bahan iritatif ke dalam pembuluh yang mengalami perdarahan, sehingga terjadi peradangan dan pembentukan jaringan parut pada pembuluh balik (vena) tersebut.
Perdarahan pada lambung sering dapat dihentikan melalui endoskopi. Dilakukan kauterisasi pembuluh yang mengalami perdarahan dengan arus listrik atau penyuntikan bahan yang menyebabkan penggumpalan di dalam pembuluh darah. Bila cara ini gagal, mungkin perlu dilakukan pembedahan.
Perdarahan pada usus bagian bawah biasanya tidak memerlukan penanganan darurat. Tetapi bila diperlukan, bisa dilakukan prosedur endoskopi atau pembedahan perut. Kadang-kadang lokasi perdarahan tidak dapat ditentukan dengan tepat, sehingga sebagian dari usus mungkin perlu diangkat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dorland. Kamus Kedokteran. EGC: Jakarta. 2002.
2. Supriatmo.2003. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Gejala Refluks Gastroesofagus Pada Anak Usia Sekolah Dasar. http://www.USU.ac.id.
Diunduh pada tanggal 28 September 2009.
3. Sri Mayarni Sutadi.2003. Pola Keganasan Saluran Cerna Bagian Atas dan Bawah secara Endoskopi di H.Adam Malik – Medan. http://www.USU.ac.id.
Diunduh pada tanggal 28 September 2009.
4. Prof. DR. dr. Yanwirasti. Slide kuliah pengantar: Abdomen
5. Dr. H. Asri Zahari, Sp.BD (K). Slide kuliah pengantar: Diagnosis dan penatalaksanaan Hemorrhoid

One response

  1. Iqbal Juher

    Makasi ya Bang.. :)

    September 15, 2010 pukul 7:21 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.